REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pulau Bawean sejak lama dikenal sebagai lumbung qori dan qoriah berbakat di Indonesia. Dari pulau santri di utara Gresik ini, lantunan ayat suci Alquran kerap menggema hingga tingkat nasional.
Salah satu sosok yang menorehkan jejak itu adalah Siti Aisyah Azis. Dengan latar belakang keluarga sederhana, Aisyah memulai perjalanannya dari didikan orang tua, Abdul Aziz dan Saida, yang menanamkan kecintaan mendalam terhadap Alquran sejak dini.
Langkah awalnya dimulai saat duduk di bangku kelas 6 SD di Sangkapura, Bawean. Ia meraih juara pertama MTQ tingkat kecamatan, lalu melanjutkan prestasi serupa di tingkat kabupaten di Gresik.
Perjalanan Aisyah tidak berhenti di situ. Ia terus menimba ilmu kepada banyak guru, mendalami Alquran serta kitab-kitab dasar seperti Safinatun Najah dan Sullamut Taufiq. Ketekunannya membawanya mendapatkan pembinaan dari Departemen Agama Kabupaten Gresik.
Dalam prosesnya, ia diasuh oleh Drs Muhammad Hasan dan Hj Siti Rohani Sandi. Kemampuannya semakin matang setelah mendapat bimbingan para ulama dan maestro tilawah Jawa Timur, di antaranya KH Basori Alwi, KH Daman Huri, KH Salahuddin Ghozali, serta qori nasional seperti Muammar ZA dan Maria Ulfa.
“Cita-cita saya dulu sederhana, ingin menjadi juara qori. Kalau tidak internasional, minimal nasional,” ujarnya kepada Republika.co.id, Ahad (12/4/2026)
Harapan itu akhirnya terwujud. Pada 1985, Aisyah meraih Juara 1 MTQ. Ia kembali menorehkan prestasi dengan meraih Juara 1 MTQ Nasional Jamqur pada 2006.
Kini, perjalanan panjang itu berlanjut dalam bentuk pengabdian. Di Malang, Aisyah dipercaya menjadi pembina tilawah, membimbing generasi muda agar mampu tampil di tingkat provinsi hingga nasional. Ia juga telah enam periode menjadi Dewan Hakim MTQ Provinsi Jawa Timur.
Meski sarat pengalaman, Aisyah tetap rendah hati. “Saya ini orang biasa, tidak punya pangkat dan titel. Tapi Alhamdulillah dipercaya,” ucapnya.
Di sela aktivitasnya, ia rutin berkeliling pesantren di Malang untuk mengajarkan qira’ah dan tilawah kepada para santri. Baginya, ilmu Alquran adalah amanah yang harus terus dijaga dan diwariskan.
Namun, ada satu harapan yang terus ia simpan, yakni kebangkitan kembali qori-qoriah dari Bawean. Ia mengenang masa kejayaan era 1980-an, ketika nama-nama seperti Nikmatuz Zahra, Faridah, Halimah, hingga Mariam mampu bersaing di tingkat nasional.
“Saya ingin anak-anak Bawean muncul lagi seperti dulu,” kata Aisyh.
Pada Ahad (12/6/2026), Aisyah kembali melantunkan tilawah dalam acara Halal Bihalal Bawean International 2026 di Yogyakarta. Kehadirannya menjadi simbol bahwa tradisi tilawah dari Bawean masih hidup.
Kisah Siti Aisyah Azis menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Dengan ketekunan, bimbingan guru, dan kecintaan pada Alquran, jalan prestasi tetap terbuka.
Kini, tongkat estafet itu berada di tangan generasi muda Bawean—menanti, akankah suara mereka kembali menggema di panggung MTQ nasiona

5 hours ago
5















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)