REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Memberikan gawai kepada anak sering kali menjadi jalan pintas bagi orang tua untuk membuat buah hati tenang. Namun, di balik layar yang berwarna-warni tersebut, terdapat risiko besar yang mengintai kesehatan fisik dan mental anak jika durasinya tidak dibatasi.
Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi konsultasi pediatri-anak Rumah Sakit Umum Hermina Nilla Mayasari menyarankan para orang tua memberikan batasan sreeen time atau durasi menonton bagi anak, karena akan berpengaruh besar terhadap mental maupun kesehatannya. "Jadi, sebenarnya untuk screen time bukan hanya gadget aja. Screen time itu bisa televisi, ponsel, maupun gadget. Batas penggunaannya itu sudah ada penelitiannya dari WHO (World Health Organization)," kata dia.
Hal tersebut merespons pembatasan media sosial anak di bawah 16 tahun melalui Peraturan Menteri Komdigi nomor 9 tahun 2026 tentang Peraturan Pemerintah nomor 17 tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS), diberlakukan 28 Maret 2026. Menurut dia, Organisasi Kesehatan Dunia tidak merekomendasikan anak di bawah satu tahun memegang gadget, sebab sudah ada penelitian yang sifatnya multicenter. Namun faktanya, di zaman sekarang orang tua masih memberi anaknya gadget, apalagi ketika anak tidak mau makan dan tantrum.
Nilla mengatakan, anak di bawah dua tahun hanya boleh satu jam menonton. Misalnya, satu jam dipisah 30 menit di waktu pagi dan berikutnya 30 menit di waktu sore. Sedangkan anak berumur tujuh tahun ke atas hanya dibolehkan juga satu jam.
"Ada banyak penelitian yang mengatakan setiap 30 menit anak nonton screen time, mau gadget, mau televisi itu meningkatkan risiko 2,7 kali ada gangguan komunikasi, dan itu sudah rilis," kata dia.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi Indonesia (PERDOSRI) Cabang Sulawesi-Papua ini menyambut baik kebijakan pemerintah. Alasannya, turut mendukung keputusan WHO. Ada upaya perlindungan terhadap anak, bukan hanya terkait dengan terbatasnya aktivitas fisik.
"Kalau gadget, mereka terbatas aktivitas fisik. Dengan adanya aturan ini, tentu akan membantu anak-anak harus bermain keluar (tanpa gadget). Karena, bermain keluar itu ada aktivitas fisik yang berguna buat mereka pada fase tumbuhkembangnya, itu pertama," ujarnya.
sumber : Antara

8 hours ago
6















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)