REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Di tengah tren generasi muda yang mulai meninggalkan sektor pertanian, sekelompok pemuda di Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang tergabung dalam komunitas Petani Punk justru menunjukkan aksi nyata. Mereka berkomitmen untuk menjadi pemasok utama bahan baku bagi dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Gunungkidul dengan sentuhan teknologi modern.
Tak tanggung-tanggung, para pemuda ini mengintegrasikan teknologi berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk memastikan kualitas bahan baku tetap terjaga serta mengawasi kelancaran rantai pasok dari hulu hingga ke tangan penerima manfaat.
Saat ini, Petani Punk telah menjalin kolaborasi strategis dengan Yayasan Bijana Paksi Sitengsu. Kerja sama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan pangan ke dapur-dapur MBG di wilayah mereka.
Targetnya, pada akhir April 2026 ini, hasil budidaya Petani Punk siap memasok lima titik dapur MBG yang tersebar di wilayah Gedangsari dan Playen.
Untuk menjamin kualitas dan transparansi, mereka menggunakan sistem teknologi terpadu berbasis AI. Sistem ini dikembangkan dengan konsep Hub yang mengintegrasikan data dari lima dapur yang ada, sehingga stok dan distribusi bisa dipantau secara real-time.
Sibags penggagas Petani Punk, menyatakan Petani Punk Gunungkidul ini dirintis sejak tahun 2018. Gerakan ini lahir sebagai respon atas keresahan terhadap minimnya regenerasi petani di pedesaan.
"Alih-alih memilih pekerjaan di sektor formal perkotaan, para "punker" ini justru bangga turun ke sawah, meneruskan jejak profesi orang tua mereka dengan gaya dan metode yang lebih progresif," jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa langkah ini adalah pembuktian bahwa identitas punk juga bisa memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan pangan nasional.
"Kita juga merangkul generasi Z di desa untuk membudidayakan berbagai jenis komoditas, mulai dari sayur-sayuran, buah-buahan, bahan pokok, hingga sektor perikanan dan peternakan," jelas Sibagz.
Sementara itu, Tedi Anggoro selaku Sekretaris Yayasan Bijana Paksi Sitengsu menekankan pentingnya kolaborasi ini untuk memastikan ketersediaan pangan yang sehat dan berkelanjutan bagi program pemerintah.
"Hingga saat ini, progres pembangunan infrastruktur dapur MBG telah mencapai 80 persen. Fasilitas ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pengolahan makanan, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat lokal," jelas Tedi Anggoro.
Dari sisi teknis, Fajar Saptono dari Tim IT menjelaskan bahwa penggunaan AI memungkinkan proses monitoring yang lebih terbuka dari hulu ke hilir. Segala proses, mulai dari masa tanam di pemasok hingga makanan sampai ke tangan siswa, dapat terdata dengan akurat.
"Dengan sistem monitoring digital ini, diharapkan tercipta ekosistem pangan yang transparan dan efisien, sekaligus membangkitkan kebanggaan anak muda untuk kembali membangun desa melalui pertanian," kata Fajar.

9 hours ago
5















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5448189/original/093801500_1766021590-WhatsApp_Image_2025-12-18_at_07.55.13.jpeg)