Awan Digital Iran

3 hours ago 7

Oleh Ahmadie Thaha, Kolomnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Malam itu dunia seperti disadarkan oleh satu kalimat pendek yang nadanya dingin tapi maknanya panas: Iran menargetkan infrastruktur cloud di Qatar yang diduga menopang operasi militer lawan.

Dunia tersentak. Bukan karena rudalnya, tapi karena alamatnya. Selama ini orang mengira perang itu urusan darat, laut, udara. Ternyata ada satu lagi: awan. Cloud. Dan awan itu ternyata punya koordinat.

Kita mulai dari sini. Sebab langkah Iran itu bukan sekadar aksi militer, tapi puncak dari sebuah bangunan panjang bernama kemandirian digital.

Iran bukan negara paling canggih dalam teknologi informasi (IT). Tapi ia termasuk sedikit negara yang sengaja membangun sistem IT agar tetap hidup bahkan saat dunia dimatikan dari dirinya.

Mari kita buka dapurnya.

Di atas kertas, Iran memiliki sekitar tujuh puluh tiga juta pengguna internet, dengan penetrasi mendekati delapan puluh persen populasi.

Koneksi mobile di sana bahkan melampaui jumlah penduduk — artinya satu orang bisa memegang lebih dari satu akses.

Hampir seluruh jaringan seluler mereka sudah berada pada level broadband, dengan cakupan yang menembus lebih dari sembilan puluh persen wilayah. Ini bukan angka kecil. Ini adalah fondasi.

Industri telekomunikasinya sendiri bernilai lebih dari sebelas miliar dolar, dengan pemain utama seperti Mobile Telecommunication Company of Iran, MTN Irancell, dan Telecommunication Company of Iran.

Kota seperti Teheran, Isfahan, dan Shiraz menjadi simpul utama, tempat jaringan, bisnis, dan negara bertemu dalam satu kabel yang sama.

Tapi kekuatan Iran tidak berhenti di “banyak pengguna” atau “luas jaringan”. Itu hanya kulit. Dagingnya ada pada sesuatu yang jarang dimiliki negara berkembang: jaringan nasional yang berdiri sendiri.

Mereka menyebutnya National Information Network (NIN). Sebuah sistem yang memungkinkan lalu lintas data domestik tetap berjalan bahkan jika koneksi global diputus.

Bayangkan sebuah negara yang bisa mematikan pintu internet internasional, tapi bank tetap hidup, pemerintahan tetap berjalan, dan layanan digital tetap aktif.

Di banyak negara, itu kiamat. Di Iran, itu prosedur.

Jaringan intranet nasional fully operational. Target trafik domestik: 70% konten di-host lokal. Latensi domestik: bisa lebih cepat dari akses global.

Kapasitas bandwidth internal mereka tumbuh hingga puluhan Tbps. Ini yang membedakan Iran: bukan sekadar internet, tapi internet yang bisa “diputus dari dunia” tanpa mematikan negara.

Data center mereka sekitar 70–100 fasilitas aktif. Mereka punya _Internet Exchange Points sebanyak 7–10 IXP utama. Kapasitas hosting domestik meningkat. Estimasi di atas 60% trafik nasional ditangani lokal melalui jaringan serat optik hingga desa.

Lebih dari itu, Iran tidak hanya membangun jaringan, tapi juga isi di dalamnya.

Mereka menciptakan alternatif lokal: platform belanja Digikala dengan 40 juta pengguna, aplikasi transportasi Snapp dengan 30 juta pengguna, layanan pesan Soroush, Bale, Rubika dengan jutaan pengguna.

Bahkan mereka mesin pencari sendiri, seperti Yooz, Parsijoo. Memang tidak dominan, tapi strategis. Dan tidak semuanya unggul, tapi cukup untuk menggantikan.

Dan dalam geopolitik, “cukup untuk menggantikan” sering lebih penting daripada “terbaik tapi tergantung”. Mereka merancang sistem yang tetap berjalan bahkan saat dunia dimatikan dari mereka.

Masuk ke lapisan berikutnya: pusat data.

Nilai industri data center Iran mendekati satu miliar dolar dan terus tumbuh menuju dua kali lipat dalam satu dekade.

Kapasitasnya memang belum sebesar Amerika atau China, tapi pertumbuhannya agresif. Dari sekitar dua belas megawatt kapasitas aktif, mereka menargetkan lonjakan hingga puluhan megawatt dalam beberapa tahun.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
Food |