REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG BARAT - Proyek waste to energy di Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat akan dipercepat. Kesepakatan bersama tentang Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) kawasan Sarimukti telah ditandatangani oleh Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofik, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Wali Kota Bandung M Farhan, Bupati Bandung Dadang Supriatna, Wali Kota Cimahi Ngatiyana, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail, Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein dan Wakil Bupati Cianjur Ramzi.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menyebutkan, keberadaan PSEL atau waste to energy Sarimukti bakal berdampak positif terhadap lingkungan dan perekonomian di wilayahnya.
"PSEL Sarimukti tersebut dinilai akan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Bandung Barat. Lingkungan lebih bersih dan sehat, dengan berkurangnya penumpukan sampah dan pencemaran dan enyediaan energi listrik terbarukan yang mendukung kebutuhan lokal," kata Jeje saat dikonfirmasi, Rabu (8/4/2026).
Menurut Jeje, percepatan proyek waste to energy untuk mengelola sampah berbasis teknologi ramah lingkungan ini merupakan langkah strategis yang mampu mengubah sampah menjadi energi listrik. Konsep ini merupakan implementasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 109 Tahun 2025 tentang Pengelolaan Sampah Perkotaan Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
"Selain itu keberadaan PSEL tersebut bakal berdampak terhadap peningkatan ekonomi lokal melalui kesempatan kerja dan nilai tambah dari pengolahan sampah," ujar Jeje.
Kepala UPTD Pengelolaan Sampah TPA/TPST Regional pada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat Arief Perdana mengatakan Pemprov Jabar diberi tugas untuk menyiapkan lahan di kawasan Sarimukti yang rencananya masih berdekatan dengan Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) yang sekarang masih digunakan. Untuk kebutuhan lahan ini, kata Arief, Presiden Prabowo Subianto sudah menginstruksikan agar kementerian terkait mempercepat proses persetujuan pinjam pakai untuk pembangunan PSEL Sarimukti.
"Nanti kita minta surat dari pa gubernur untuk Menhut (Menteri Kehutanan) untuk segera diterbitkan persetujuan pinjam pakai kawasan hutannya, kita sudah berproses. Kebutuhannya itu sekitar 25 atau hampir 26 hektare," kata Arief.
Pemprov Jabar juga harus menyiapkan sampah sebagai bahan dasar pengolahan menjadi listrik. Enam daerah yaitu Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Purwakarta sudah sepakat untuk mengirimkan sampahnya ke PSEL Sarimukti. Kebutuhannya mencapai 3.400 ton lebih per hari.
Pemprov Jabar juga harus menyediakan sumber air dengaan kapasitas cukup besar. Arief mengatakanPemprov Jabar akan melakukan kajian untuk sumber air karena kondisi sungai yang ada dan berdekatan dengan Sarimukti sepertinya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan waste to energy nanti.
"Air ini kami masih mencoba untuk mengkaji tugas kami karena memang untuk PSEL ini dibutuhakan air yang cukup banyak, sekitar 1.000 meter kubik per hari. Sedangkan kondisi eksisiting sekarang terbatas Sarimukti, sungainya kecil debitnya, tidak akan cukup jadi harus ada kajian terkait sumber air," kata Arief.
Sedangkan untuk pembangunan konstruksinya, Pemprov Jabar menunggu kepastian dari pemerintah pusat. Arief mengatakan, hasil kesepakatan percepatan bersama pembangunan PSEL Sarimukti kemarin akan dibawa Kementerian Lingkungan Hidup ke dalam sebuah forum. Pembangunan nantinya akan dilakukan PT Danantara bersama mitra.
"Dari segi pembiyaan sudah jelas konstruksi nanti akan di-cover langsung Danantara dan mitranya, jadi kita tidak mengeluarkan biaya. Tapi ada proses lagi, sehingga perkiraan saya mungkin akhir tahun 2026 atau awal 2027 (dimulai pembangunan)," kata Arief.

3 hours ago
16






























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5442317/original/061837000_1765533575-cheesecake-3660900_1280.jpg)

















