Pertamina menggunakan jalur maritim sebagai salah satu penopang untuk mendistribusikan BBM dan LPG ke wilayah Indonesia dengan mengandalkan sebanyak 345 kapal.
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Dua kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS), yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, hingga saat ini masih tertahan di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz seiring situasi keamanan yang dinamis di kawasan tersebut.
Pjs. Corporate Secretary PIS Vega Pita menyampaikan, perusahaan terus memantau perkembangan secara saksama serta melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk kementerian dan otoritas berwenang. Di saat yang sama, PIS juga menyiapkan perencanaan pelayaran (passage plan) yang mengedepankan aspek keselamatan.
“Prioritas utama perusahaan adalah keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya,” ujar Vega dalam keterangan resmi, Sabtu (19/4).
Ia menambahkan, PIS berharap kondisi di jalur strategis tersebut segera membaik agar kedua kapal dapat melanjutkan pelayaran dengan aman.
Situasi di Selat Hormuz kembali menjadi sorotan setelah pemerintah Iran sebelumnya sempat membuka akses pelayaran di jalur tersebut di tengah ketegangan kawasan. Namun, menurut laporan Reuters, kondisi di lapangan tetap berfluktuasi akibat faktor keamanan dan geopolitik yang belum sepenuhnya stabil.
Reuters melaporkan, meskipun tidak ada penutupan resmi dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah operator pelayaran dan perusahaan energi global masih bersikap hati-hati. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya risiko keamanan, termasuk potensi gangguan terhadap kapal komersial yang melintas di salah satu jalur distribusi minyak paling vital di dunia tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan choke point strategis yang menghubungkan Teluk Arab dengan pasar global. Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur ini, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada rantai pasok energi global.
Di tengah kondisi tersebut, langkah PIS untuk menahan pelayaran dinilai sebagai bentuk mitigasi risiko yang mengedepankan prinsip kehati-hatian. Perusahaan memastikan seluruh keputusan operasional mempertimbangkan perkembangan terkini di lapangan serta rekomendasi otoritas terkait.
Dengan situasi yang masih dinamis, pelaku industri pelayaran global, termasuk PIS, kini memilih menunggu kepastian kondisi keamanan sebelum melanjutkan aktivitas lintas Selat Hormuz.

6 hours ago
8















































